Senin, 25 Agustus 2008

Gejolak Perlawanan Massa


By: HaQi Al- Kipli

Secara letak geografis kota malang berda di dataran tinggi yang meiliki cuaca yang sangat dingin, akan tetapi seketika itu berubah menjadi suasana yang panas dari gelombang perlawanan massa rakyat yang terus berkobar menolak rencana pemerintah ( rezim SBY-JK ) menaikkan harga BBM, selam kurang lebih satu bulan gedung-gedung pusat pemerintahan di kota malang dalam setiap minggunya selalu di banjiri oleh gelombang demonstrasi massa.
Rencana pemerintah menaikkan harga BBM dengan politik penyelamatan APBN, yang katanya membengkak akibat melambungnya harga minya dunia yang menembus lebih dari 100 USD / barel, hal tersebut mendapatkan tanggapan serius bagi kalangan rakyat Indonesia yang mayoritas hidup dibawah garis kemiskinan, takayal protes tersebut terus meluas di nusantara ini tanpa terkecuali kota malang. Dengan adanya krisis ditingkatan imperialisme internasional dan ketidak stabilan ekonomi dalam negri, rezim SBY-JK mengeluarkan kebijakan tentang dinaikkannya harga BBM dengan rata-rata 28%, tepatnya pada tanggal 24 mei 2008.
Teriakan “Tolak Kenaikan Harga BBM dan Turunkan Harga Sembako” menjadi himne ( nyanyian pagi hari ) yang taka sing lagi di sepanjang jalan utama dan gedung pemerintahan, yang dilantunkan dengan keras oleh barisan massa aksi, upaya mempropagandakan terhadap massa luas dan menuntut kepada pemerintan atas kebijakannya menaikkan harga BBM yang nyata-nyata telah memiskinkan bagi kehidupan rakyat serta sangat tidak populis itu.
Serikat Mahasiswa Indonesia sebagai ormass demokratik yang memiliki pendirian dan keberpihakan kelas, bersama-sama gerakan / ormass demokratik lainnya melakukan perlawanan dan menyuarakan terhadap rezim atas kebijakannya, dimana wadah perjuangan itu yang terdiri dari pelbagai sektor ( multi sektoral ), buruh, petani, kaum miskin kota, dan pemuda mahasiswa, dengan mengatas namakan FPRM “ Forum Perjuangan Rakyat Malang ”, yang tergabung didalamnya antara lain; SPBI, SBSI-M, SBDM, AGRA, SRMI, SMI, FMN, SPM, FORBAS, SMART, BEM-UMM, dan beberapa ormass lain yang tergabung.

• Gerakan Massa VS Represifitas Aparat
Gelombang perlawanan massa takkan pernah surut meski ancaman dan represifitas aparat terhadap perjuangan rakyat terus di gencarkan, kenyataan tersebut dari gejolak perlawana massa yang tergabung dalam FPRM terus-menerus mendengungkan propagandanya disetiap basis-basis massanya, bahkan dengan hal tersebut perlawanan dan perjuangan massa terus meluas dibeberapa daerah. Suatu kenaifan yang di berikan oleh negara terhadap rakyatnya yang memperjuangkan ha-hak hidupnya selalu dilayani dengan pukulan bahkan senjata aparat (represif state apparatus).
Kenyataan tersebut telah dialami oleh FPRM yang dalam tuntutanya tolak kenaikan harga BBM, sembako dan cabut UU PMA/25/2007 yang mana UU tersebut menjadi payung hukum dalam melibealisasikan industri sektor migas. Tepat pada tanggal 15 mei FPRM yang menggelar aksi massanya di gedung DPRD kota malang dengan menyerukan “Rakyat Malang Bersatu Tolak kenaikan Harga BBM” dihadpkan dengan represifitas aparat yang mengakibatkan luka-luka ringan, salah satunya anggota SMI Koms. UB yang mengalami luka bagian bibir dan kaca matanya pecah, akan tetapi dengan kekuatan massa yang solid massa aksi mampu menorobos barisan aparat dan berhasil menduduki gedung DPRD lebih kurang 20 menit. Namun hal tersebut bukan berarti mematahkan semangat bagi perjuangan massa, dengan kekuatan massa yang lebih besar FPRM kembali menggelar aksi massa dalam tuntutan yang sama pada tanggal 21-mei dengan sasaran PEMKOT dan PEMKAB, dimana kedua gedung pusat pemerintahan tersebut dilakukan penyegelan simbolik oleh massa aksi, walaupun setelah itu dihadapkan lagi dengan keberingasan represifitas aparat polisi yang mengakibatkan tertangkapnya 3 massa dari serikat buruh (SBSI-M) yang tergabung dalam FPRM dan terdapat luka memar di bagian wajahnya. Yang ini terus berlanjut hingga pemerintah mengumumkan kenaikan haraga BBM pada tgl.24 mei 2008.
Dari hal tersebut sudah nampak jelas bagi kita bahwa setiap kali perlawanan massa yang menuntut hak-hak demokratisnya terhadap negara selalu dihadapkan dengan kekerasan dan penangkapan terhadap massa rakyat, maka, hal yang perlu kita perhatikan tetunya kewaspadaan dalam tindakan sangatlah penting dalam perjuangan-perjuangan politik. Hanya dengan kewaspadaan dan keteguhan dalam keyakinan kita akan perjuangan kelas kesalahan-kesalahan akan kita minimalisir dari setiap perlawanan massa, karena kita ketahui bersama bahwa kekuatan borjuasi tidak akan memberikan kekuasaannya dengan suka rela terhadap rakyat, tanpa rakyatlah yang merebutnya dengan perlawanan-perlawanan yang teroganisir, terpimpin, terdidik dan progressif dalam menegakkan perjuangan kelas.

Terima kasih semoga bermanfaat......
Mari kita tingkangkatkatkan kesadaran dan perjuangan massa.

Salam Pembebesan Nasional dari Imperialisme...

Tidak ada komentar: